Jadi Sorotan di Shanghai, Industri Perfilman Indonesia Tunjukkan Kekuatan Baru

peristiwa.info – Dalam acara Shanghai International Film Festival (SIFF) ke-28 yang berlangsung pada 12 hingga 21 Juni 2026 di Shanghai, China. Industri film Indonesia kembali mencatatkan pencapaian membanggakan di panggung internasional. Sejumlah karya sinema Indonesia berhasil mencuri perhatian penonton, kritikus, hingga pelaku industri film dunia. Kehadiran film-film Indonesia di festival bergengsi tersebut menjadi bukti semakin kuatnya posisi industri kreatif Tanah Air di kancah global.

Salah satu film yang paling banyak mendapat sorotan adalah “Rencana Besar untuk Mati dengan Tenang” (My Own Last Supper) karya sutradara Ismail Basbeth. Film ini terpilih dalam kompetisi utama Golden Goblet Awards dan menjadi salah satu dari 12 film yang memperoleh kesempatan penayangan perdana dunia. Mengangkat kisah seorang pria lanjut usia yang mengumpulkan keluarganya dalam sebuah perjamuan terakhir. Film tersebut menghadirkan cerita emosional tentang hubungan keluarga, trauma masa lalu, dan pencarian makna hidup.

Tak hanya mendapat perhatian dari kalangan media internasional, film ini juga menuai antusiasme tinggi dari publik Shanghai. Sejumlah sesi pemutaran dilaporkan terjual habis hanya dalam waktu singkat setelah penjualan tiket dibuka. Ketertarikan dari penonton dinilai tidak lepas dari tema universal yang diangkat film tersebut, sekaligus perspektif unik mengenai kehidupan masyarakat Tionghoa-Indonesia lintas generasi. Dalam sebuah temu media pada Rabu, 17 Juni 2026, sutradara Ismail Basbeth mengatakan bahwa dirinya sangat berterima kasih kepada SIFF atas apresiasinya terhadap film dan seluruh kru. “Saya berharap melalui karya ini, terjalin hubungan yang lebih mendalam antara China dan Indonesia” kata Ismail.

Di bidang animasi, Indonesia juga menunjukkan karyanya melalui film “Garuda di Dadaku” (2026) karya Ronny Gani yang berkompetisi dalam kategori Animation Competition. Film ini mengisahkan perjuangan seorang anak pengidap asma yang bercita-cita menjadi pemain tim nasional sepak bola Indonesia. Dengan kualitas visual yang kuat dan pesan inspiratif tentang keberanian mengejar mimpi, film tersebut mendapat respons positif dari penonton festival.

Selain dua film yang berkompetisi, Indonesia turut menghadirkan film animasi “Jumbo” (2025) serta film drama “Yuni” (2021) dalam program pemutaran khusus. Kehadiran empat film Indonesia sekaligus dalam rangkaian SIFF 2026 menunjukkan semakin beragamnya karya yang mampu dihasilkan sinema nasional mulai dari drama keluarga, film bertema sosial, hingga animasi berkualitas internasional.

Partisipasi Indonesia di SIFF tahun ini tidak hanya menjadi ajang promosi budaya, tetapi juga membuka peluang kolaborasi dengan pelaku industri film dunia. Keberhasilan tersebut menjadi sinyal positif bahwa cerita-cerita lokal Indonesia memiliki daya tarik universal dan mampu bersaing di tingkat internasional. Dengan semakin banyaknya karya yang mendapat pengakuan global, masa depan perfilman Indonesia dinilai semakin cerah dan menjanjikan.

Perliput : Maulida Azzahra

Editor : Najma Nur Azkiya