Rupiah Anjlok ke Rp16.596 per Dolar AS, Terburuk Sejak 1998
peristwa.info – Nilai tukar rupiah mengalami pelemahan tajam hingga mencapai Rp 16.596 per dolar AS pada penutupan perdagangan Jumat (28/2/2025). Ini menjadi level terendah sejak krisis finansial pada Juni 1998, dengan penurunan 0,86 persen dibandingkan hari sebelumnya. Dalam sepekan terakhir, rupiah telah melemah 1,7 persen, menjadikannya mata uang dengan penurunan paling dalam di Asia sepanjang 2025.
Selain rupiah, sebagian besar mata uang Asia juga mengalami pelemahan. Won Korea Selatan tercatat sebagai mata uang dengan pelemahan terbesar, turun 0,98 persen terhadap dolar AS. Namun, yuan China sedikit menguat 0,02 persen, menjadi satu-satunya mata uang di kawasan yang mencatatkan kenaikan.

Pada Kamis (6/3/2025), rupiah ditutup di level Rp 16.339 per dolar AS, turun 27 poin atau 0,17 persen dari perdagangan sebelumnya. Berdasarkan kurs referensi Bank Indonesia (BI) Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), rupiah berada di posisi Rp 16.315 per dolar AS pada so. Sementara itu, mata uang Asia lainnya menunjukkan pergerakan bervariasi, dengan baht Thailand melemah 0,35 persen, yuan China turun 0,10 persen, peso Filipina naik 0,04 persen, yen Jepang menguat 0,39 persen, dan ringgit Malaysia melemah 0,17 persen.
Mata uang negara-negara maju justru mengalami penguatan. Poundsterling Inggris naik 0,20 persen, euro Eropa bertambah 0,43 persen, dan franc Swiss meningkat 0,17 persen. Penguatan ini mencerminkan perbedaan sentimen pasar terhadap ekonomi negara-negara berkembang dan maju.
Analis keuangan Lukman Leong menyatakan bahwa rupiah kembali melemah meskipun ada harapan stimulus dari China serta pelemahan dolar AS. Ia menilai kondisi ini menunjukkan kekhawatiran investor terhadap perang dagang yang masih berlangsung. Hal ini membuat pasar cenderung lebih berhati-hati dalam menempatkan investasinya.
Peliput : Muhammad Rizki Fadhillah & Zefanya Maehka Rizky Ananda
Editor : Ghina Nouverina Alifa Taufan
