Masyarakat Protes, Petisi Tolak Kenaikan PPN 12% Meledak!

peristiwa.info – Pada 19 Desember 2024, sebuah petisi daring yang menolak rencana pemerintah untuk menaikkan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) menjadi 12 % telah menarik perhatian publik. Petisi ini telah ditandatangani oleh lebih dari sembilan puluh ribu orang yang mendesak pemerintah untuk membatalkan kebijakan tersebut. Inisiator petisi berpendapat bahwa kenaikan PPN akan memberatkan masyarakat, terutama kelompok berpenghasilan rendah. Mereka menekankan bahwa peningkatan pajak ini dapat menyebabkan harga barang dan jasa naik, sehingga daya beli masyarakat menurun.

Barang dan jasa mewah yang akan dikenai PPN 12 % mulai 1 Januari 2025 adalah:

1. Rumah Sakit kelas VIP atau pelayanan kesehatan premium lainnya;

2. ⁠Pendidikan standar internasional berbayar mahal atau pelayanan pendidikan premium lainnya;

3. ⁠Listrik pelanggan rumah tangga dengan daya 3600-6600 VA;

4. ⁠Beras dengan kualitas premium;

5. ⁠Buah-buahan kategori premium;

6. ⁠Ikan premium, seperti salmon dan tuna;

7. Udang dan crustasea premium, seperti king crab;

8. ⁠Daging premium, seperti wagyu atau kobe yang harganya jutaan;

Kebijakan kenaikan PPN diperkirakan akan memberikan dampak signifikan bagi Gen Z, yang saat ini sebagian besar berada di fase awal memasuki dunia kerja atau mulai membangun usaha kecil. Dengan meningkatnya PPN, biaya hidup sehari-hari termasuk kebutuhan pokok, transportasi, dan hiburan tentunya akan membengkak. Hal ini bisa berakibat pada berkurangnya kemampuan mereka untuk menabung atau berinvestasi.

Selain itu, Gen Z yang dikenal aktif di sektor ekonomi digital juga akan merasakan dampak dari kenaikan biaya layanan digital, seperti platform streaming, pembelian aplikasi, dan produk teknologi. Sebagai generasi yang sangat bergantung pada teknologi dan gaya hidup modern, kenaikan harga ini berpotensi mengurangi pengeluaran mereka dan memengaruhi pola konsumsi.

Bagi Gen Z yang sedang merintis usaha kecil, kenaikan PPN menghadirkan tantangan besar. Mereka harus menghadapi lonjakan biaya operasional, serta kesulitan dalam menarik pelanggan, terutama ketika konsumen memilih untuk mengurangi belanja akibat peningkatan harga barang dan jasa. Situasi ini dapat memperlambat pertumbuhan bisnis-bisnis baru yang dikelola oleh generasi muda.

Sumber : kompas.com, antaranews.com, inilah.com

Peliput : Nur Maulidah Putri & Pirla Achmeta

Editor : Najma Nur Azkiya