Waspadai Gejala Happy Hypoxia
peristiwa.info – COVID-19 dapat menimbulkan berbagai gejala, seperti demam, batuk, dan pilek. Pada kasus yang parah, penyakit ini bisa menyebabkan sesak napas dan penurunan kesadaran akibat kekurangan oksigen.
Selain itu, ada pula penderita COVID-19 yang tidak merasakan gejala apa pun. Nah, meski terkadang tidak bergejala, ternyata infeksi virus corona bisa saja membuat tubuh penderitanya mengalami penurunan oksigen secara perlahan.

“Kalau sudah terjadi hypoxia dalam waktu yang cukup lama, pasien akan mengalami kesadaran menurun dan biasanya akan fatal akibatnya,” kata Erlina Burhan dalam diskusi di akun Youtube BNPB.
Happy hypoxia merupakan sebutan untuk gejala yang ditimbulkan oleh berkurangnya jumlah oksigen didalam darah. Normalnya, orang akan mengalami sesak napas ketika kekurangan oksigen.
Namun, rasa sesak itu tidak dialami pada beberapa pasien COVID-19 lantaran sudah terjadi kerusakan syaraf yang mengantarkan sensor ke otak. “Sehingga otak tidak bisa mengenali kejadian kekurangan oksigen di darah,” ujarnya.
Gejala happy hypoxia akan muncul jika pasien COVID-19 memiliki gejala berupa batuk terus menerus, demam, dan keluhan lemas. Jika warna bibir atau ujung jari sudah berwarna biru, hal itu menandakan saturasi oksigen sudah menurun.
“Segera larikan ke rumah sakit. Jangan tunggu biru kalau batuk bertambah, lemas, segera cek dengan pulse oksimetri. Kalau tidak punya, langsung ke rumah sakit,” sambungnya.
Erlina menuturkan, satu-satunya obat untuk mengobati gejala happy hypoxia hanya dengan oksigen. Begitu kadar darah sangat rendah di kisaran 60-70 persen, pasien COVID-19 akan diintubasi dan masuk ventilator.
Sumber foto: Google
Peliput: Sella Agustina
