Kemarau Berlanjut, Air Sungai Makin Asin dan Karhutla Meluas
peristiwa.info – Kemarau belum usai, masyarakat kembali dihadapkan pada persoalan lingkungan yang belum juga mereda. Air Sungai Martapura semakin asin, sementara kabut asap dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menyelimuti wilayah Kalimantan.
Air Sungai Asin, Penggunaan Air Warga Dibatasi

Peningkatan kadar garam di Sungai Martapura mulai dirasakan masyarakat di sejumlah wilayah Banjarmasin. Kondisi ini terjadi akibat masuknya air laut ke aliran sungai. Dampaknya, sejumlah ikan laut seperti sembilang, pari muara, ikan kiper, dan kakap putih mulai ditemukan hingga kawasan Banua Anyar, Banjarmasin Utara. Kepala Bidang Perikanan Dinas Ketahanan Pangan, Perikanan dan Pertanian (DKP3) Banjarmasin, Sulaiman Thalib, menjelaskan bahwa ikan-ikan tersebut berpindah mengikuti kondisi kadar garam di perairan.
Meningkatnya kadar garam di Sungai Martapura juga berdampak pada ketersediaan air bersih masyarakat. Sungai Martapura merupakan salah satu sumber air baku yang digunakan Perusahaan Perseroan Daerah Air Minum (PTAM) Bandarmasih untuk menyediakan air bersih. Sejak 22 September 2026, air yang disalurkan ke sejumlah wilayah terdampak hanya diperuntukkan bagi kebutuhan mandi, cuci, dan kakus (MCK), sehingga masyarakat tidak dianjurkan menggunakannya untuk minum dan memasak.
Kondisi tersebut membuat masyarakat di wilayah terdampak perlu mencari sumber air alternatif untuk memenuhi kebutuhan konsumsi sehari-hari. Pembatasan penggunaan air dilakukan karena kadar garam yang meningkat dapat memengaruhi kualitas air yang disalurkan kepada masyarakat. Kondisi Sungai Martapura pun menjadi perhatian karena perubahan kualitas air tidak hanya berdampak pada ekosistem, tetapi juga kebutuhan dasar warga.
Asap Karhutla Menebal, Ancam Keselamatan Warga

Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih dirasakan masyarakat di sejumlah wilayah Kalimantan Selatan. Di Banjarmasin, kabut asap terpantau pekat pada Rabu (23/9/2026). Berdasarkan data Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) di Stasiun Kayu Tangi, konsentrasi PM10 mencapai 1.556 pada pukul 07.00 Wita dan masuk kategori berbahaya. Kondisi tersebut turut mengganggu jarak pandang dan aktivitas masyarakat.
Karhutla juga terjadi di sekitar Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Sambang Lihum, Kabupaten Banjar. Api yang mendekati kawasan rumah sakit membuat 167 pasien dievakuasi ke ruangan yang lebih aman. Berdasarkan pemantauan udara, lahan yang terbakar di sekitar lokasi mencapai sekitar sembilan hektare. Petugas kemudian melakukan pemadaman dan melokalisasi titik api agar kebakaran tidak semakin mendekati kawasan rumah sakit.
Kabut asap juga berdampak pada aktivitas masyarakat di Kalimantan Tengah. Seorang siswi SMKN 1 Cempaga Hulu, Kabupaten Kotawaringin Timur, meninggal dunia setelah mengalami kecelakaan saat dalam perjalanan menuju sekolah pada Jumat (18/9/2026). Kecelakaan terjadi di kawasan Pelantaran yang saat itu diselimuti kabut asap, sehingga membuat jarak pandang terbatas. Hingga kini, kepolisian setempat masih melakukan penyelidikan untuk mengetahui penyebab kecelakaan tersebut.
Peliput : Eldya Rosada & Rismaniswati
