Ketika Horor Jadi Kritik, ‘Ghost in the Cell’ Tembus 86 Negara

peristiwa. info — Film terbaru karya Joko Anwar, Ghost in the Cell, sukses besar sejak dirilis pada 16 April 2026 dengan meraih lebih dari dua juta penonton di Indonesia. Tak hanya itu, hak penayangannya juga telah terjual ke 86 negara, menegaskan daya saing film Indonesia di pasar global sekaligus memperkuat posisi Joko Anwar di industri perfilman nasional.

Film ini mengangkat sisi kelam kehidupan di dalam penjara yang digambarkan penuh ketidakadilan dan relasi kuasa timpang. Melalui kisah entitas jahat yang menargetkan individu dengan emosi negatif, terutama kemarahan, film ini menyampaikan kritik sosial sekaligus pesan moral tentang dampak buruk perilaku manusia.

Dari segi visual, film ini menghadirkan adegan gore dan elemen psikologis seperti trypophobia sebagai simbol pembusukan moral. Kekuatan cerita juga didukung oleh performa solid dari deretan aktor papan atas seperti Abimana Aryasatya, Rio Dewanto, dan Lukman Sardi yang berhasil menghidupkan karakter-karakter kompleks di dalamnya.

Film ini tentunya tidak lepas dari catatan kritis. Di balik keunggulan teknisnya, film ini memicu diskusi hangat terkait kedalaman narasinya. Sebagian penonton menilai alur ceritanya kurang logis dan menyisakan beberapa celah logika yang dianggap mengganggu kesinambungan cerita. Kritik ini muncul terutama pada bagian transisi konflik yang dinilai terlalu cepat, sehingga beberapa aspek motivasi karakter terasa kurang tereksplorasi dengan matang.

Walaupun mendapatkan beberapa kritikan, keberhasilan film ini mencerminkan perkembangan pesat industri kreatif Indonesia, dimana film menjadi produk bernilai ekonomi tinggi. Kolaborasi dengan berbagai pihak turut memperkuat promosi dan membuka peluang lebih luas bagi industri lokal untuk bersaing di tingkat global.

Peliput : Azzahra Salwa Phileadiba & Citra Aulia

Editor : Najma Nur Azkiya