Laut Bercerita Difilmkan, Hidupkan Kembali Sejarah Kelam 1998
Laut Bercerita Difilmkan, Hidupkan Kembali Sejarah Kelam 1998
Pristiwa.info – Dari tulisan ke layar lebar, rumah produksi Pal8 Pictures resmi mengadaptasi salah satu novel terlaris, Laut Bercerita karya Leila S. Chudori ke layar lebar. Pengumuman tersebut disampaikan di Jakarta pada 24 Februari 2026. Film ini dijadwalkan tayang pada 2026 dan disutradarai oleh Yosep Anggi Noen, menandai transformasi kisah sastra populer tentang aktivis 1998 ke format film.
Film ini akan dibintangi oleh Reza Rahadian sebagai Biru Laut dan Dian Sastrowardoyo sebagai Kasih Kinanti, serta turut menghadirkan Eva Celia dan Christine Hakim. Deretan nama besar tersebut memperkuat ekspektasi publik terhadap film yang mengangkat kisah penculikan dan perjuangan aktivis menjelang Reformasi Indonesia.
Adaptasi ini dilakukan karena relevansi cerita yang dinilai tetap kuat lintas generasi. Novel yang terbit pada 2017 itu dikenal luas sebagai karya fiksi sejarah yang menggambarkan sisi kemanusiaan para korban penghilangan paksa, sekaligus menjadi pengingat atas peristiwa kelam yang terjadi pada tahun 1998.

Meski dibanjiri dengan Antusiasme Yang tinggi, Leila S. Chudori mengaku menyimpan kekhawatiran atas proses alih wahana tersebut. Ia menyadari tingginya harapan pembaca agar film tetap setia pada narasi asli. Untuk menjembatani hal tersebut, Leila terlibat langsung dalam penulisan skenario untuk menjaga esensi cerita dan kedalaman emosinya.
Proses adaptasi dilakukan dengan menitikberatkan pada pilar utama cerita serta penguatan konteks sejarah.Keterbatasan durasi film membuat seluruh bagian novel tidak dapat dihadirkan, sehingga penyutradaraan difokuskan pada konflik inti dan perjalanan karakter utama agar tetap utuh dan berdampak.
Melalui pendekatan tersebut, film Laut Bercerita diharapkan bukan hanya menjadi tontonan, tetapi juga sarana refleksi bagi generasi muda. Dengan menghadirkan kembali kisah perjuangan aktivis 1998 ke layar lebar, film ini berupaya membuka wawasan dan ruang diskusi mengenai hak asasi manusia dan sejarah bangsa.
Peliput : Shifa Aliya
Siti Nurhaliza
Editor : Muhammad Riwandi Saputra
