UTBK 2025 Dihantui Dugaan Kecurangan Sistematik
Pelaksanaan Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) untuk Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) 2025 diwarnai dugaan kecurangan yang sistematik. Ujian yang berlangsung sejak 23 April hingga 3 Mei ini diikuti 860.976 peserta, namun hanya sekitar 30 persen yang diperkirakan lolos seleksi. Panitia Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru (SNPMB) mencurigai keterlibatan sebuah lembaga bimbingan belajar dari Jawa Tengah dan seorang pegawai perguruan tinggi negeri di Jawa Timur dalam kasus kecurangan ini.
Ketua SNPMB, Eduart Wolok, menyampaikan bahwa sebuah lembaga bimbingan belajar yang berkantor pusat di Yogyakarta diduga menjadi bagian dari skema kecurangan yang terstruktur dalam pelaksanaan UTBK. Lembaga ini disebut mengatur sejumlah peserta untuk mengikuti ujian pada sesi awal, dengan tujuan mengumpulkan dan mempelajari soal-soal ujian, lalu informasi tersebut dibagikan kepada peserta lain yang dijadwalkan mengikuti sesi ujian selanjutnya. Dugaan ini dikuatkan oleh pengakuan peserta yang telah diperiksa di sejumlah pusat UTBK, meski identitas lembaga belum diungkap karena proses penyelidikan masih berlangsung.

Selain itu, kecurangan juga terdeteksi di Universitas Jember (UNEJ), Jawa Timur. Seorang pegawai Unej dilaporkan membantu pihak luar mengakses komputer peserta secara jarak jauh. Setelah menerima informasi dari panitia pusat pada hari pertama ujian, tim UTBK Unej melakukan penyelidikan dan menemukan perangkat tersembunyi seperti mini PC, router, dan UPS di dalam kardus printer yang disamarkan di ruang ujian. Penemuan ini mencegah terjadinya akses ilegal terhadap perangkat peserta. Unej telah memberikan sanksi kepada pegawai yang terlibat dan menegaskan komitmennya menjaga integritas pelaksanaan UTBK.
Ketua SNPMB juga mengungkapkan adanya jaringan kecurangan yang lebih luas dan terorganisir, yang diduga beroperasi dari sebuah hotel. Saat panitia dan pihak kepolisian melakukan penggerebekan di lokasi tersebut, para pelaku telah melarikan diri. Meski begitu, ditemukan bekas alat-alat seperti kabel yang sudah dipotong. Penemuan ini semakin menguatkan indikasi adanya sindikat yang terlibat dalam upaya kecurangan UTBK secara sistemik.
Lebih lanjut, Eduart menyebutkan berbagai metode kecurangan canggih yang digunakan dalam UTBK tahun ini, mulai dari perangkat lunak pengendali jarak jauh, kamera tersembunyi dalam behel gigi, hingga alat komunikasi kecil yang disembunyikan di sepatu atau kuku. Meskipun panitia telah mempersiapkan antisipasi, kemajuan teknologi membuat pengawasan menjadi lebih menantang. Karena itu, panitia mendorong peningkatan standar pemeriksaan, termasuk penggunaan alat pendeteksi logam dan pemeriksaan ruang transit. Peserta yang terbukti curang akan langsung didiskualifikasi, sementara pihak internal yang terlibat akan dikenai sanksi tegas.
Peliput: Diandra Swadesi Rahim
Editor: Azwa Assyifa
