Desa Wadas Dikepung Polisi, Bagaimana Nasib Warganya?
perisiwa.info – Pembangunan tambang andesit di Desa Wadas, Purworejo, Jawa Tengah merupakan akar konflik yang saat ini tengah terjadi antara warga dengan petugas polisi di lapangan.
Dikutip dari CNN Indonesia, sejumlah aparat kepolisian mendatangi wilayah Desa Wadas pada Selasa (8/2) pagi. Kedatangan rombongan polisi ini disebut berkaitan dengan proses pengukuran wilayah untuk pembangunan tambang batu andesit.

Warga Wadas sudah melakukan penolakan terhadap penambangan batu andesit untuk proyek stategis nasional (PSN) Bendungan Bener sejak 2016 lalu. Penolakan warga tersebut kerap mendapat tekanan dari aparat kepolisian. Ribuan aparat kepolisian dengan senjata lengkap dikabarkan menyerbu Desa Wadas. Mereka mencopot banner penolakan Bendungan Bener dan mengejar beberapa warga sampai ke hutan.
Pada Rabu (9/2) sore, 67 warga yang ditahan sehari sebelumnya sudah dipulangkan. Beberapa warga ditahan oleh pihak aparat yang mengawal proses pengukuran karena dinilai memprovokasi. Tindakan aparat ini sontak memicu kecaman dari banyak pihak.
Buntut lain dari penyerbuan ini yaitu akun Instagram LBH Yogya sempat tidak bisa diakses sesaat setelah mengunggah aksi aparat di lapangan. Banyak yang menganggap bahwa tindakan aparat ini seakan mencoba mengintimidasi warga yang menolak pembangunan tambang. Anak-anak pun takut untuk pergi ke sekolah setelah melihat anak-anak lain yang turut ditangkap.
Penolakan warga didasari alasan tanah yang akan dijadikan daerah pertambangan merupakan tempat mereka memenuhi kebutuhan sehari-hari, yang jika dihilangkan, maka akan berdampak pada kesejahteraan kehidupan warga.
Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengklaim telah mempercayakan Komnas HAM untuk dapat menyelesaikan kasus sengketa warga Desa Wadas yang menolak pembangunan Bendungan Bener di Purworejo. Komnas HAM meminta agar pengukuran lahan kuari di Desa Wadas, Kecamatan Bener untuk PSN Bendungan Bener ditunda sampai proses dialog berjalan.
Peliput: Putri Kumala Sari
