Perubahan Iklim Dalam Secangkir Kopi
peristiwa.info- Akibat dari terjadinya variabilitas iklim, seperti kekeringan yang panjang dan tidak terduga, di saat sama hujan yang berlebihan di tempat-tempat yang berbeda, yang memicu banjir dan tanah longsor. Produksi pertanian dan komoditas perkebunan pun, yang memerlukan kondisi pertumbuhan tertentu, menjadi terancam keberlanjutannya. Termasuk kopi.
Sebagai salah satu minuman paling populer yang dikonsumsi sepertiga penduduk dunia, kopi menjadi salah satu komoditas pertanian yang paling banyak diperdagangkan secara global. Perdagangan kopi dunia 70% berupa jenis kopi arabika dan 30% robusta. Jenis lain seperti kopi liberika, belum banyak diperdagangkan di pasar global.
Kopi sensitif pada suhu. Karena itu pemanasan global jadi ancaman serius komoditas ini. Studi de Sousa pada 2019 memperkirakan pada 2050 sekitar 60% lahan yang sekarang dipakai untuk budi daya kopi akan menjadi tidak layak tanam lagi.
Di Indonesia, kekeringan ekstrem akibat El Niño membuat produksi kopi turun 10%. Sementara musim hujan panjang akibat La Niña menurunkan produksi kopi hingga 80% (Syakir dan Surmaini,2017).

Musim yang ekstrem juga memicu hama yang membuat kopi arabika kian rentan. Penelitian baru-baru ini oleh Kath dkk (2020) juga menemukan kopi robusta yang sebelumnya lebih tahan hama juga terganggu pertumbuhannya akibat iklim yang berubah.
Tidak hanya berpengaruh pada kuantitas, perubahan iklim juga berpengaruh pada kualitas dan cita rasa kopi. Petani kopi di Tana Toraja, Simalungun, dan Flores merasakan produksi kopi mereka turun sejak 2010. Petani kopi di Simalungun menceritakan pada 1990-an sebatang tanaman kopi menghasilkan 3-5 kilogram biji, kini hanya 1 kilogram.
Salah satu bentuk adaptasi petani atas makin panasnya suhu adalah memindahkan tanaman ke lahan dengan elevasi yang lebih tinggi. Pilihan ini tentu saja berdampak pada perubahan tata guna lahan dan berisiko pada lebih banyak lagi penyusutan hutan karena pembukaan lahan. Di luar soal biaya pengelolaan yang naik.
Jika dampak negatif perubahan iklim terhadap produksi kopi semakin parah, di masa depan akan terjadi ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan kopi global. Penghidupan petani kopi pun terancam. Kelak, barangkali, menyesap kopi di pagi hari menjadi sebuah kemewahan.
Kabar baiknya, perubahan iklim global ini mendorong inovasi baru dalam manajemen kopi yang lestari. Seperti diulas oleh Verburg dkk (2019), salah satunya dengan sistem pengelolaan hama terintegrasi dan sistem tree windbreak, wanatani dan diversifikasi tanaman, pemilihan varietas kopi baru dan teknik konservasi tanah dan air yang tepat.
Alih-alih hanya sekedar membeli biji kopi, sejumlah bisnis kafe ternama dunia juga mulai bekerja langsung dengan para petani kopi berskala kecil di Kosta Rika, Indonesia, dan Ethiopia agar mereka bisa beradaptasi dengan perubahan. Dampak iklim telah memberikan perhatian global yang lebih besar terhadap para petani kopi.
Lalu apa yang bisa dilakukan para penikmat kopi? Setidaknya kita bisa lebih menghargai setiap sesapan dalam secangkir kopi yang masih bisa kita nikmati dengan mudah saat ini. Di balik secangkir kopi ada cerita panjang manajemen lahan yang menyimpan cara adaptasi terhadap perubahan iklim yang persisten. Cara paling baik mendukungnya adalah dengan meminum kopi yang dikelola secara lestari, dengan rantai pasok yang memperhatikan proteksi lingkungan.
sumber: forestdigest.com
Peliput : Vivi Maulida
