Yuk Mengenal Efek Samping Penggunaan Vaksin Moderna
peristiwa.info – Moderna, merupakan salah satu dari beberapa jenis Vaksin yang digunakan di Indonesia. Vaksin Moderna yang sebelumnya digunakan untuk booster tenaga kesehatan, kini mulai didistribusikan ke masyarakat umum. Diberitakan oleh Kompas.com, Kamis (12/08/2021), Kementerian Kesehatan telah mengalokasikan 5.102.300 dosis vaksin Moderna untuk vaksinasi Covid-19 di 34 Provinsi.
“Moderna untuk masyarakat umum untuk dosis satu dan dosis dua untuk usia diatas 18 tahun” ujar Nadia saat dihubungi Kompas.com, Kamis (12/08/2021).
Meskipun juga diberikan kepada masyarakat umum, namun suntikan ketiga booster Moderna bagi para tenaga kesehatan juga terus dilanjutkan.

Sebelumnya, Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Penny Lukito juga menjelaskan bahwa vaksin Moderna belum dapat diberikan untuk anak-anak. Dia menjelaskan, penggunaan vaksin Moderna adalah untuk imunisasi pencegahan Covid-19 bagi kelompok usia 18 tahun ke atas.
“Vaksin Moderna belum bisa untuk anak di bawah 18 tahun. Ini untuk 18 tahun ke atas,” ujarnya sebagaimana diberitakan Kompas.com, Jumat (2/7/2021). Adapun vaksin Moderna penggunaannya diberikan secara injeksi (suntikan) sebanyak dua kali dalam rentang waktu satu bulan.
Tak jauh berbeda dengan vaksin Covid-19 lainnya, vaksin Moderna juga memiliki efek samping untuk penerimanya. Munculnya efek samping atau Kejadian Ikutan Pasca-Imunisasi (KIPI) cenderung dapat ditoleransi dengan status tingkat keparahan satu dan dua. Kejadian efek samping yang paling sering dirasakan, antara lain:
• Nyeri Kelelahan
• Nyeri di tempat suntikan
• Nyeri otot
• Nyeri sendi
• Pusing
Menurut Penny, berdasarkan data hasil uji klinis fase ketiga menunjukkan, efikasi vaksin Covid-19 Moderna mencapai 94,1 persen pada kelompok usia 18-65 tahun. Sementara, untuk kelompok usia di atas 65 tahun, efikasinya menurun mencapai 86,4 persen.
Selain itu, hasil uji klinis fase ketiga juga menunjukkan vaksin Moderna aman untuk kelompok populasi masyarakat dengan komorbid atau penyakit penyerta. Adapun komorbid yang dimaksud yakni penyakit paru kronis, jantung, obesitas berat, diabetes, penyakit lever hati, dan HIV.
Peliput: Rizal Nur Setiawan
