Home Mitos Shuriken Dan Kebohongan Tentang Ninja

Shuriken Dan Kebohongan Tentang Ninja

Hollywood selalu berhasil menceritakan kembali sosok bersejarah dalam versi ‘lebih heboh’, atau dalam bahasa yang lebih jujur, itu berarti menyisipkan kebohongan-kebohongan tambahan demi tujuan komersil. Misalnya koboi, simbol dari era American Wild West ini sering dideskripsikan gemar berperang dengan Suku Indian atau memakai Topi Stetson.

Padahal, koboi jarang berperang dan mereka justru lebih gemar memakai Topi Bowler. Penjelasan mengenai penyelewengan deskripsi koboi ini pernah ditulis lebih lengkap dalam artikel di kumparan sebelumnya ‘Sejarah Keliru Topi Koboi’

Sementara koboi bukanlah satu-satunya korban Hollywood, ninja juga tak luput dari re-version mereka. Dalam film-filmnya, ninja menjadi sangat identik menggunakan shuriken –walau sebetulnya tidak demikian.

Tidak ada catatan tertulis yang sezaman dengan eksistensi ninja (abad ke-8 sampai akhir ke-18), yang menjelaskan bagaimana shuriken atau throwing stars digunakan dalam peperangan. Meski ninja dikenal inovatif dalam pembuatan senjata, mereka kerap memilih penggabungan dua perkakas (atau lebih) yang sederhana menjadi sebuah senjata baru.

Kusarigama, sebagai contohnya, ialah alat tempur yang khas dipakai ninja. Dibuat dari perpaduan sabit dan rantai yang lazim digunakan petani, dan senjata ini jelas lebih efektif untuk digunakan ketimbang shuriken.

Ilustrasi senjata ninja, KusarigamaIlustrasi senjata ninja, Kusarigama (Foto:Wikimedia Commons)
Faktanya, keahlian ninja juga bukan pembunuhan (nian mereka juga dilatih ilmu bela diri). Sesuai etimologinya, ninja dibentuk dari kata ‘nin’ yang berarti ‘menyusup’. Dalam kaidah Jepang, ‘ninja’ diterjemahkan sebagai ‘seseorang yang bergerak secara rahasia’.

Mereka kelompok mata-mata di zaman feodal Jepang yang memiliki filosofi ‘meraih hasil maksimal dengan tenaga minimum’. Tugas mereka ialah meraup sebanyak-banyaknya informasi dan sebisa mungkin menghidari kontak dengan musuh.

Saat menjalankan misi di malam hari demi masuk ke area musuh, ninja tak memakai kostum berwarna hitam. Ini bertentangan dengan stereotip umum yang menganggap warna hitam tak terlihat di malam hari. Ninja terkenal cerdas, dan mereka tahu bahwa kostum hitam justru menyuguhkan siluet –terutama saat disorot sinar bulan. Mereka memilih biru tua yang lebih saru dengan warna alami langit malam.

Sementara kebanyakan ninja lelaki dapat menyamar dalam beragam profesi yang tidak mencolok (kebanyakan sebagai petani), serta membuntuti sumber informasi dari jarak jauh, ninja perempuan (kunoichi) cenderung bekerja lebih dekat dengan target. Perempuan dalam kelompok ninja memanfaatkan pesona feminimnya, manipulasi kejiwaan, dan cara licik nan lembut lainnya.

Ninja merupakan sosok paling misterius dalam sejarah Jepang, yang bahkan para sejarawan sekalipun kesulitan menjelaskannya secara utuh dan menyeluruh. Itulah mengapa, sosoknya dihiasi oleh beragam imajinasi populer dan desas-desus rakyat yang berbau mistis.

Alhasil, tidak mengherankan, akibat kemisteriusannya ninja lebih mudah digambarkan dengan ihwal supranatural, semacam kemampuan menduplikasi diri, menghilang, terbang, atau sangup melihat secara tembus pandang.

Foto: time.com | cia.gov

Leave a Reply