peristiwa.info – Dalam upaya Indonesia mencapai target Net-Zero Emission (NZE) pada 2060 mendatang, Badan Riset dan Inovasi nasional (BRIN) melalui Organisasi Riset Tenaga Nuklir (ORTN) menawarkan hidrogen berbasis nuklir sebagai energi alternatif pengganti energi fosil. Produksi hidrogen menggunakan nuklir memiliki beberapa keunggulan, diantaranya mengurangi emisi gas rumah kaca untuk tujuan netralitas karbon. Demikian disampaikan oleh Kepala ORTN-BRIN, Rohadi Awaludin dalam forum dialog bertajuk “Energy Economy towards Carbon Neutrality-The Role of Nuclear Power” pada Selasa (13/6).
“Hidrogen menjadi sumber energi baru yang sedang naik daun dan cukup menjanjikan. Hidrogen memiliki kepadatan energi yang tinggi serta memiliki kemampuan untuk menghasilkan energi listrik dan panas tanpa adanya emisi karbon. High Temperature Gas-cooled Reactor atau HTGR memiliki potensi yang tinggi dalam produksi hidrogen karena keamanan, efisiensi dan stabilitas yang dimilikinya,” tutur Rohadi.
“Sumber energi berbasis nuklir memiliki beberapa kelebihan, yaitu dapat diandalkan, rendah karbon, dapat menghasilkan energi yang tahan lama serta emisi gas rumah kaca yang kecil. Sehingga mengurangi dampak negatif terhadap perubahan iklim,” lanjutnya.
Sementara itu Direktur Energi Konservasi Kementerian—Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Gigih Udi Atmo menyampaikan bahwa Pemerintah Indonesia juga menyusun kebijakan transisi energi dalam rangka mencapai Net Zero Emission pada tahun 2060. Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) akan masuk ke sistem pada tahun 2039 untuk menjaga kehandalan sistem, kemudian pada tahun 2060 direncanakan hingga 31 Gigawatt elektrik dari PLTN akan diproduksi.
Narasumber lainnya adalah Direktur Operasi pembangkit Gas dari PT PLN Nusantara Power, M. Yossi Noval A. menuturkan bahwa teknologi produksi hidrogen memiliki keunggulan yaitu bersih dan ramah lingkungan. Jika hidrogen diubah menjadi listrik hanya akan mengeluarkan air dan panas, sehingga tidak memancarkan gas rumah kaca dan tidak menimbulkan polusi di udara akibat debu.
Dalam kesempatan yang sama, narasumber dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Prof. Zaki Su’ud menuturkan bahwa produksi gas rumah kaca harus dikurangi secara signifikan, dalam hal ini PLTN generasi canggih dapat mengambil peran penting. HTGR yang merupakan PLTN canggih generasi IV memiliki beberapa keunggulan, yaitu kemampuan keselamatan inheren untuk menghindari kecelakaan nuklir tipe Three Mile Island, Chernobyl, dan Fukushima, lebih ekonomis, kemampuan kogenerasi yang fleksibel, serta mendukung non-proliferasi.
Peliput : Diva Lazuardi Imani
Editor : Gabriella Christina Tambayong
